Ayo Mengakses Internet Melalui Televisi

Sampai saat ini, masyarakat pedesaan masih kesulitan untuk memperoleh akses internet karena terbatasnya infrastruktur jaringan Internet. Mayoritas masyarajkat kita lebih suka membeli televisi daripada komputer. Itu sebabnya televisi sebagai media informasi sudah banyak dimiliki oleh masyarakat pedesaan. Maka terbetiklah solusi untuk membuat orang mampu mengakses Internet melalui pesawat televisi. Bagaimana caranya?

Ada satu aplikasi pengembangan dari Internet broadcasting, yaitu dimana sistem Internet dipadukan dengan televisi. Media yang digunakan adalah media untuk penyiaran televisi, seperti: terestrial, menggunakan gelombang UHF dan VHF, kabel dan satelit dengan gelombang mikro. Prinsipnya adalah melewatkan paket-paket data pada sinyal video komposit.

Sinyal Video Komposit

Apa itu sinyal video komposit? Format sinyal ini disebut sinyal video komposit karena merupakan sinyal yang dikirimkan melalui kanal televisi pada sistem televisi analog dengan sistem Phase Alternating Line (PAL)– sistem televisi yang digunakan di Indonesia dan banyak negara di Asia dan Eropa. Sinyal ini akan dibangkitkan sebelum dikombinasikan dengan sinyal suara dan dimodulasikan dengan RF carrier.
Sinyal video komposit terdiri dari komponen-komponen sinyal, yaitu:sinyal informasi dan sinyal sinkronisasi

Sinyal informasi berupa sinyal data atau gambar. Sinyal ini akan dikonversi menjadi format digital yang bernilai biner (bit 0 dan 1).
Sedangkan informasi citra dalam sinyal video komposit terdiri dari:

  • Informasi intensitas atau hitam-putih atau luminans (sinyal Y)
  • Informasi warna atau krominans (sinyal U dan V)

Sinyal sinkronisasi ada dua jenis, yaitu: sinkronisasi horisontal (line synch) dan sinkronisasi vertikal (field synch). Sinkronisasi horisontal terdapat pada setiap akhir baris, sedangkan sinkronisasi vertikal terdapat pada setiap akhir dari field.

Sebuah frame atau gambar yang tampak dalam layar televisi ditampilkan dalam 2 kali field, yaitu field baris ganjil dan field baris genap. Kedua field tersebut ditampilkan secara bergantian dan perubahan setiap fieldnya diperlukan sinkronisasi vertikal.

Untuk membangkitkan sinyal ini; diperlukan mikrokontroler yang terhubung ke bagian interface televisi. Mikrokontroler yang digunakan harus memiliki spesifikasi yang mampu beroperasi pada kecepatan tinggi, agar dapat dihasilkan tampilan beresolusi cukup tinggi.

Penyiaran Internet

Setelah dibangkitkan sinyal video komposit, perlu diperhatikan penyiaran internet melalui saluran televisi. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyiaran tersebut yaitu:

  • Kualitas image atau video: merupakan kualitas utama dalam penyiaran, menggunakan video streaming dalam proses enkodingnya.

  • Biaya: terdiri dari biaya untuk menciptakan program dan biaya distribusi.

  • Isi: merupakan bagian penting dalam menarik pengguna.

  • Client Hardware: dengan peralatan apa akses tersebut dapat diperoleh pengguna.

  • Sinergi: dibutuhkan interaksi antara elemen-elemen hardware dan software dalam penyiaran televisi.

Solusi Internet broadcasting ini merupakan solusi alternatif bagi masyarakat pedesaan yang sampai sekarang masih kesulitan mengakses Internet.

Sistem manajemen konten(CMS)

Sistem manajemen konten (Inggris: content management System, disingkat CMS), adalah perangkat lunak yang memungkinkan seseorang untuk menambahkan dan/atau memanipulasi (mengubah) isi dari suatu situs Web. Umumnya, sebuah CMS (Content Management System) terdiri dari dua elemen:

  • aplikasi manajemen isi (Content Management Application, [CMA])
  • aplikasi pengiriman isi (content delivery application [CDA]).

Elemen CMA memperbolehkan si manajer isi -yang mungkin tidak memiliki pengetahuan mengenai HTML (HyperText Markup Language)-, untuk memenej pembuatan, modifikasi, dan penghapusan isi dari suatu situs Web tanpa perlu memiliki keahlian sebagai seorang Webmaster. Elemen CDA menggunakan dan menghimpun informasi-informasi yang sebelumnya telah ditambah, dikurangi atau diubah oleh si empunya situs web untuk meng-update atau memperbaharui situs Web tersebut. Kemampuan atau fitur dari sebuah sistem CMS berbeda-beda, walaupun begitu, kebanyakan dari software ini memiliki fitur publikasi berbasis Web, manajemen format, kontrol revisi, pembuatan index, pencarian, dan pengarsipan.


Berikut dibawah ini pemanfaatan CMS:

  • Website perusahaan, bisnis, organisasi atau komunitas.
  • Portal
  • Galeri foto
  • Aplikasi E-Commerce.
  • Mengelola website pribadi / blog.
  • Dan lain-lain.

Salah satu perangkat lunak Content Management System yang dikenal luas yaitu MediaWiki, perangkat lunak yang dipakai di Wikipedia dan proyek-proyek sejenis.


Ayo Membuat CMS untuk Pendidikan


Liburan sekolah menjelang dan sesudah Hari Raya Idul Fitri memang mengasyikan. Apalagi jika ada waktu luang untuk mengoprek komputer sedikit. Tulisan singkat ini akan mereview beberapa aplikasi Content Manajemen System (CMS) yang mungkin akan dapat membantu pembuatan server lokal di sekolah-sekolah.
Situs favorit saya untuk memperoleh tool atau software aplikasi yang dibutuhkan untuk membangun CMS)adalah http://www.opensourcecms.com.

Beberapa ciri khas menarik dari situs Open Source CMS, tool yang ditawarkan semua open source jadi dapat diambil gratis, termasuk source code-nya, rata-rata dalam di operasikan di Linux & Windows. Walaupun dalam kenyataannya agak relatif lebih sukar di operasikan di Windows. Situs Open Source CMS juga memungkinkan kita untuk mencoba demo masing-masing software CMS secara online. Jadi kita dapat mengevaluasi terlebih dulu apakah aplikasi tersebut cocok dengan yang kita butuhkan atau tidak, sehingga tidak salah dalam mengambil nantinya.

Berbasis Web

Karena sifatnya open source, umumnya tool CMS ini berbasis Web. Umumnya bukan berupa program yang masif yang di jalankan di sistem operasi. Tapi lebih berupa PHP Script yang di install di halaman Web. Oleh karena itu keberadaan Web server menjadi penting adanya.

Secara umum aplikasi dari CMS dapat dibagi dalam beberapa kategori, yaitu, Portal, Blogs, e-commerce, Groupware, Forum, e-learning, Image gallery, Wiki, Lite, & Knowledge management.
Fokus dari masing-masing kategori adalah sebagai berikut,

  • Portal – tool ini memudahkan kita untuk memanaje berita, artikel, tulisan, mengumpulkan pendapat (polling). Contoh sebuah portal adalah detik.com.

  • Blogs – merupakan tool yang cukup populer khususnya untuk diary virtual seseorang. Walaupun tentunya bisa digunakan untuk apa saja, misalnya mengemukakan pendapat, menceritakan pengalaman, mengemukakan sebuah pemikiran, dll. Yang menarik dari blog, memungkinkan untuk saling link atau saling mendukung satu sama lain hingga akhirnya dapat menjadi alternatif sumber informasi di Internet yang sifatnya sangat perorangan & bebas.

  • Groupware – merupakan kumpulan tool yang dapat digunakan untuk kerjasama kelompok, misalnya setup agenda rapat, kalender kelompok dll.

  • Forum – adalah tool tempat diskusi, dimana kita dapat berdiskusi melalui Web.

  • E-Learning – adalah tool untuk memfasilitasi proses belajar mengajar di sekolah / kampus melalui Web,

  • Image Galleries – adalah tool album foto di Web.

  • Wikis – adalah tool untuk membangun naskah secara kolaboratif, hingga dapat menjadi ensiklopedia di Internet.

Ciri khas software-software ini sama, rata-rata semua berbasis Web sehingga sangat mudah pengelolaannya di sebuah corporate tidak perlu menginstall apapun di sisi pengguna. Semua software dan data tersimpan di server Web, sehingga lebih mudah manajemen dan maintenance-nya.

Kategori

Daftar panjang program CMS open source dapat di lihat di http://www.opensourcecms.com. Ada banyak aplikasi yang di kembangkan pada masing-masing kategori. Kategori Portals (CMS) merupakan kategori yang mempunyai paling banyak aplikasi open source-nya seperti BitWeaver, CivicSpace, Clever Copy, CMS Made Simple, Contenido, DEV, Dragonfly CMS, Drupal, e107, EcwCMS, Exponent, eZ Publish, Fundament, Geeklog, Jaws, JetBox, Joomla, Jupiter, Mambo, MDPro, MODx, Netious, OneCMS, Ovidentia, Papoo, PHP-Fusion, PHP-Nuke, phpComasy, phpSlash, phpWebSite, PHPX, PLUME CMS, Postnuke, Props, SPIP, Tiki CMS/Groupware, toendaCMS, Typo3, Website Baker, Xaraya, XOOPS, dan YACS!. Beberapa yang terbaik dan sering digunakan oleh adalah Drupal, Joomla dan Mambo.

Pada kategori Blog, aplikasi yang ada antara lain adalah b2evolution, bBlog, BirdBlog, BLOG:CMS, Blur6ex, boastMachine, Dotclear, Loudblog, Nucleus CMS, Pixelpost, sBlog, Serendipity, Simplog, Textpattern, TruBlog, Wheatblog, dan WordPress. Yang termasu cukup simpel dan mudah digunakan adalah WordPress.

Untuk kategori Forum diskusi melalui web, aplikasi yang ada antara lain adalah FUDForum, miniBB, MyBB, Phorum, phpBB, PunBB, SMF, UNB, UseBB, Vanilla, W-Agora, dan XMB. Bagi mereka yang ingin membuka toko di Internet, aplikasi dalam kategori e-commerce akan membantu. Beberapa diantaranya adalah osc2nuke, osCommerce, phpShop, dan Zen Cart. Mungkin yang sering dipakai adalah osCommerce dan Zen Cart.

Untuk aplikasi Groupware, aplikasi yang ada antara lain adalah ACollab, dotProject, eGroupWare, NetOffice, dan phpGroupWare. Untuk aplikasi e-Learning ada beberapa software yang menarik yaitu ATutor, Dokeos, Interact, Moodle, dan Site@School. Software favorit untuk e-learning adalah Moodle.
Untuk menyimpan foto / Image Galleries ada beberapa aplikasi seperti Coppermine, DAlbum, Gallery, Gallery 2, LinPHA, MG2, Plogger, Singapore, Snipe Gallery, SPGM, WEBalbum, dan yappa-ng.

Untuk membangun Ensiklopedia atau di kenal sebagai Wiki, aplikasi yang ada antara lain adalah DokuWiki, ErfurtWiki, MediaWiki, phpWiki, PmWiki, QwikiWiki, UniWakka, WackoWiki, Wikepage, WikkaWiki, dan WikkiTikkiTavi. Aplikasi yang sering digunakan adalah TikiWiki.

Bagi mereka yang mengiginkan CMS yang sederhana, ada beberapa software CMS sederhana seperti AngelineCMS Lite, CuteNews, Etomite, EyeOS, GuppY, Limbo, Pivot, ReloadCMS, SAPID, sNews, dan TML. Beberapa software CMS seperti KnowledgeTree, Owl, phpmychat, SugarCRM, Webcalendar menjadi menarik misalnya untuk membangun perpustakaan atau dokumen manajemen.

Teknik Instalasi Open Source CMS
Instalasi perangkat open source CMS ini biasanya tidak terlalu sulit. Beberapa tahapan sederhana yang perlu dilalui. Persiapan software yang perlu di install sebelum menginstalasi software CMS,

1.Install Linux.
2.Install Web server yang di lengkapi kemampuan untuk PHP.
3.Install database server, salah satu yang sering digunakan adalah MySQL.

Pada saat proses instalasi software CMS biasanya yang di perlukan adalah

1.Membuat database di software database MySQL, di sertai username dan password untuk mengaksesnya.
2.Buka software CMS di folder tempat file Web, biasanya di /var/www/html.
3.Software CMS dapat diakses melalui http://localhost atau http://ip-address-mesin-anda.

Selesai sudah proses instalasi software CMS.

Biasanya pada saat pertama kali masuk ke Web CMS, kita diberi menu untuk mengkonfigurasi awal dari CMS tersebut. Biasanya semua tabel akan di sisikan secara automatis oleh CMS, dan kita di minta untuk menset username dan password administrator dari CMS tersebut. Selesai sudah proses konfigurasi dan instalasi awal dari CMS.

Selanjutnya adalah mengunakan CMS tersebut. Biasanya tidak terlalu sulit untuk menggunakan CMS tersebut karena rata-rata sudah amat sangat di bantu oleh menu-menu pembantu.
Moodle – Software e-learning

E-learning adalah proses belajar mengajar yang dibantu oleh komputer. Proses yang paling mudah adalah dengan menggunakan Web server dan menjalankan aplikasi e-learning tersebut melalui Web. Dengan melalui Web, kita praktis tidak perlu mengkonfigurasi terlalu banyak di sisi pengguna. Salah satu software paling menarik saat yang banyak digunakan untuk e-learning adalah moodle.

MediaWiki

MediaWiki barangkali termasuk kategori Wiki yang paling berhasil di implementasikan dalam skala besar, yaitu,

l http://www.wikipedia.org – ensiklopedia terbesar di dunia.
l http://www.wikibooks.org – buku text dan non-fiksi.

Saya pribadi amat sangat menyarankan anda semua untuk sering-sering melakukan surfing ke kedua situs tersebut baik untuk memperoleh pengetahuan maupun untuk berkontribusi pada ilmu pengetahuan.

MediaWiki sifatnya open source dan dapat di ambil di http://www.mediawiki.org. Tepatnya pada http://www.mediawiki.org/wiki/Download
Wildfire – Internet Messenging & Chatting

Untuk melakukan Internet Messenging seperti Yahoo Messenger (YM), kita dapat menggunakan Wildfire. Software Wildfire dapat di ambil dari http://www.jivesoftware.org/ . Agar proses instalasi lebih mudah, akan lebih baik kalau di ambil file RPM dari bagian download http://www.jivesoftware.org/download-landing.jsp?file=builds/wildfire/wildfire_3_0_0.rpm

Joomla – Content Management System

Salah satu software content management favorit saya adalah Joomla. Joomla dapat di ambil di http://www.joomla.org

Nah yang manakah yang ingin dipakai? Silakan dicoba satu demi satu. Semuanya tidak terlalu sulit dan membutuhkan spesifikasi komputer standar saja.

Sumber :http://opensource. telkomspeedy. com/speedyorari/

CMS itu apa sieh..?


Memindahkan Layar Bioskop ke Rumah


Pehobi film pasti ingin menikmati layar bioskop di rumah. Alasannya selain ekonomis, juga lebih praktis. Berikut secuplik panduan memilih layar TV yang pas buat kita.

Jika akhir tahun 1970-an yang menjadi trend di dunia pertelevisian adalah transformasi dari TV hitam putih ke TV warna, dimana baik stasiun TV maupun pemilik TV sama sama berusaha untuk melihat menyiarkan dan menerima gambar berwarna pada TVnya karena memang jauh lebih nyaman melihat TV berwarna daripada hitam putih.

Setelah itu teknologi TV tidak mengalami banyak perubahan mendasar dimana yang terjadi adalah beberapa perubahan yang tidak menuntut perubahan penyiaran TV sendiri dan umumnya hanya perubahan pada pesawat TV itu sendiri seperti peningkatan ukuran layar pesawat TV dan layar yang tadinya cembung menjadi layar datar. Sebenarnya perkembangan dalam teknologi penyiaran, namun perkembangan dalam bidang ini juga saling terkait dan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Contohnya, perkembangan player yang tergantung sekali dengan media dimana jika anda hari ini memiliki sistem HD DVD yang mencakup TV layar datar HD, HD DVD / Blueray Player dan sound sistem HD, akan menjadi perjuangan tersendiri bagi anda jika ingin menikmati film – film dengan kualitas Full HD karena baik film Full HD seperti HD DVD maupun Blueray yang tersedia di pasaran masih sangat sedikit dan sekalipun ada harganyapun masih selangit.

Tulisan ini akan membatasi diri pada pembahasan TV layar datar secara populer dan realistis dengan situasi saat ini di Indonesia dan harapan penulis adalah setelah mebaca sedikit artikel ini para pembaca setidaknya dapat mendapatkan beberapa petimbangan praktis dalam membeli TV, khususnya dengan perkembangan TV layar datar baik LCD maupun plasma yang pelan-pelan sudah mulai menggantikan TV CRT (Cathode Ray Tube).

Sudah Tepat Membeli TV Layar Datar ?

Mirip dengan yang terjadi di dunia IT atau kalau mau tidak kalah sombong dapat dikatakan mendahului perkembangan di dunia IT. Terjadi perubahan yang cukup besar dalam teknologi monitor dimana teknologi TV yang puluhan tahun di dominasi oleh teknologi CRT pelan tapi pasti mulai digeser oleh TV layar datar yang memiliki kelebihan lebih tipis, lebih ringan, lebih tinggi resolusinya, tingkat radiasi relatif lebih rendah dan lebih hemat listrik tetapi dengan satu kelemahan, menyebabkan kanker alias kantong kering karena jauh lebih mahal. Kalau di dunia IT pengganti CRT adalah teknologi LCD, kalau di dunia TV layar datar ada dua teknologi yang bersaing dimana mulanya adalah teknologi Plasma dan disusul oleh teknologi LCD (Liquid Crystal Diode).

Kalau mau ditanyakan, apa beda CRT dengan LCD, secara teknis seperti yang diutarakan penulis diatas, yaitu lebih tipis, lebih ringan, lebih tinggi resolusinya dan lebih hemat listrik. Tetapi secara prinsip tidak ada bedanya dimana kedua-duanya berfungsi untuk melihat siaran TV, video atau main game.

Lalu kalau ditanyakan apakah saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli TV layar datar, ada beberapa pertimbangan yang dapat dipikirkan. Jika anda memang merencanakan mengganti TV anda dan membeli TV dengan ukuran

Di dunia elektronik konsumer dimana barang yang fungsinya sama diproduksi oleh banyak merek, ada beberapa hal yang mempengaruhi harga jual barang elektronik, diantaranya adalah skala produksi dan persaingan. Jika suatu produk baru diperkenalkan, dapat dipastikan harganya mahal sekali karena skala produksinya masih kecil dan saingan masih sedikit sehingga produsen masih menikmati margin laba yang tinggi.

Sebagai gambaran TV Plasma 42” dengan resolusi standar pada tahun 2005 diluncurkan oleh LG Indonesia dengan harga US $ 6.000 atau > Rp. 50 juta. Tetapi, hari ini (2 tahun setelah Plasma mulai dijual di Indonesia) TV Plasma / LCD yang dapat dikatakan sudah matang teknologinya dengan spesifikasi jauh lebih tinggi dan sempurna serta memiliki beberapa fitur tambahan bisa di dapatkan dengan harga Rp. 11 juta atau harga 20 % dari saat pertama kali diluncurkan. Jika anda bertanya apakah harganya akan turun lagi ? Meskipun pertanyaan tersebut gampang-gampang sulit di jawab, tetapi diperkirakan harga sekitar Rp. 10 juta untuk TV layar lebar 42” sudah mendekati biaya produksinya dan sulit untuk ditekan lebih rendah lagi. Jika berpatokan dari harga LCD monitor, diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan, rentang turunnya harga TV layar lebar 42” sudah makin sempit, paling maksimal 10 % karena sudah mencapai harga dasar produksinya.

Patokan yang penulis lakukan adalah dengan melihat harga TV layar datar 32“ hari ini berkisar antara 8 – 10 juta, dan TV 42“ memiliki range yang cukup lebar antara 11 juta s/d 20 juta. Jadi jika anda memiliki budget dan berminat pada TV layar lebar, harga saat ini untuk TV 42” sudah cukup ekonomis.

Pilih Plasma atau LCD ?

Sebenarnya untuk layar datar berukuran “jumbo” yang pertama muncul adalah TV Plasma dengan harga yang aujubileh US $ 6.000 untuk 42”. Walaupun pelan-pelan harganya turun, tetapi penurunan harga TV plasma yang paling kentara terjadi adalah sejak mendapatkan saingan ketat dari TV LCD layar lebar. Jadi secara tidak langsung LCD berjasa memberikan alternatif pengganti plasma dan hebatnya karena LCD awalnya banyak digunakan sebagai monitor di dunia IT dan persaingan di dunia IT sangat kompetitif sehingga konsumen menjadi pihak yang diuntungkan. “Kebiasaan” ini dibawa juga ke dunia TV layar lebar (konsumer) sehingga mau tidak mau TV plasma harus ikut turun harga, jika tidak mau menjadi “kenangan terindah”.

Keunggulan Plasma :

  • Warna hitam yang tegas.

  • Tidak terjadi blur (gambar kabur) pada gerakan yang cepat sehingga cocok untuk film aksi dan olahraga.


  • Sudut pandang plasma juga lebih baik dibandingkan LCD dimana jika ditonton pada sudut yang terlalu tajam LCD akan agak kabur.

  • Plasma keluaran terakhir berusaha menyaingi LCD TV dalam hal resolusi dimana beberapa vendor sudah mengeluarkan plasma full HD tetapi harganya masih tinggi dibandingkan dengan LCD TV.

Keunggulan LCD :

  • Layar LCD tidak mengkilap seperti Plasma yang megkilat seperti kaca menyebabkan pantulan yang mengganggu dari jendela dan lampu. Plasma lebih nyaman dilihat di ruangan gelap atau dengan pencahayaan khusus.

  • Burn in, plasma juga memiliki kelemahan burn in, dimana jika menampilkan satu gambar yang sama untuk jangka waktu panjang seperti logo TV, game, pesan berjalan (ticker) akan mengakibatkan bekas terbakar dilayar yang mengganggu. Hal ini sudah disadari dan coba diatasi oleh beberapa produsen plasma.


  • Plasma lebih berat dari LCD TV (walaupun bukan berfungsi sebagai barbel untuk fitness, tetapi hal ini perlu menjadi perhatian jika anda bermaksud menggantungkan TV layar lebar anda di dinding).

  • Resolusi, satu hal yang menurut penulis cukup penting adalah dengan harga yang sama, LCD TV memiliki resolusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan plasma sehingga dapat memberikan tampilan gambar yang lebih tajam. Hal ini menyebabkan LCD TV sangat cocok untuk untuk permainan video game resolusi tinggi, monitor komputer dan melihat hasil foto digital.

  • Kelemahan LCD dalam blur (gambar kabur) untuk gerakan cepat juga mulai diperbaiki sehingga cukup nyaman untuk menonton sajian olahraga atau film action yang bergerak cepat.

Vendor yang memfokuskan diri dan memiliki keunggulan dalam teknologi plasma adalah Pioneer dan Panasonic, sedangkan vendor yang menonjol dalam teknologi LCD TV adalah Sony. Menurut pengamatan penulis, pada saat ini pertempuran sementara dimenangkan oleh LCD TV karena dengan harga yang sama, LCD TV memiliki resolusi yang lebih tinggi dan terlihat nyata ketika dibandingkan head to head.

Full HD, Apakah Perlu ?

Saat ini, LCD TV yang beredar di Indonesia umumnya memiliki resolusi 1.366 X 768 pixel dan biasa disebut HD Ready, sedangkan Full HD yang mulai di gembar gemborkan oleh produsen TV adalah TV dengan resolusi 1920 X 1080 pixel. Jika anda melihat angka dan disuruh memilih tentunya siapapun akan memilih Full HD yang saat ini tergolong produk premium dengan harga rata-rata > Rp. 16 juta untuk ukuran > 40”. Bandingkan dengan TV HD Ready merek Korea yang di bandrol dengan harga mulai dari Rp. 10 juta.

Syarat untuk menonton Full HDTV adalah :

  • TV nya sudah Full HD – 1080p
  • Siarannya sudah Full HD, atau
  • Playernya sudah mampu memainkan Full HD danfilmnya sudah Full HD

Jadi jika kita memiliki TV Full HD 1.080p dan mengharapkan menonton siaran TV Full HD, asal tahu saja bahwa di dunia ini sekalipun belum ada standar broadcast yang menyiarkan siaran Full HD (1080p). Standar penyiaran dunia yang ada pada saat ini adalah 1080i (CBS dan NBC), ABC dan Fox lebih rendah lagi 720p (1280 X 720). Mau tahu resolusi DVD player kita ? 720 X 480 (NTSC) atau 720 X 576 (PAL).

Jadi kita bisa memperkirakan sekarang ada dimana resolusi broadcast TV di Indonesia dan kira-kira kapan ada siaran Full HD di Indonesia sehingga dapat anda nikmati di TV Full HD yang anda beli. Mungkin sampai TV Full HD yang anda beli sekarang rusak dan anda ganti TV barupun, siaran Full HD tersebut belum tersedia di Indonesia.

Maaf jika informasi ini terkesan pesimistis tetapi penulis berusaha memberikan informasi yang realistis dalam decision making anda membeli TV layar lebar yang efisien. Mengharapkan TV satelit (pay TV) untuk menyairkan siaran Full HD ? Asal anda tahu, siaran Full HD membutuhkan lebar frekuensi 3 – 5 kali SDTV (Standar Definition TV) yang sekarang digunakan. Jika satelit digunakan untuk menyiarkan Full HD, maka otomatis saluran yang bisa dipancarkannya menjadi berkurang dan hal tersebut berarti harga berlangganan setiap bulan harus dinaikkan atau jumlah channel siarannya dikurangi.

Ada yang tertarik ?

Satu hal lagi yang perlu anda beritahukan kepada salesman TV layar datar tersebut jika masih ngotot membujuk anda membeli TV layar datar Full HD. Minta berikan bukti perbedaan pixel antara 1080p dengan 720p. Pada TV 42”, mata manusia normal akan sangat sulit membedakan perbedaan pixel 1080p dengan 720p, kecuali pada layar sangat besar seperti 70”.

Satu hal lagi. seandainya terjadi suatu revolusi besar pada dunia broadcasting dan seluruh siaran menjadi Full HD atau harga Blue Ray dan HD DVD player menjadi semurah DVD player dan mendadak film-film Full HD menjadi semurah film DVD dan semua film tersedia dalam format Full HD. TV Layar Datar HD Ready yang anda beli masih bisa anda gunakan untuk menonton film-film tersebut.

Catatan :

Artikel ini dibuat berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis dalam dalam perjalanan mencari TV Layar Datar yang “Value for Money” berdasarkan sumber-sumber independen dan terpercaya. Tulisan ini bertujuan untuk memperkaya wawasan penulis dan pembaca. Jika ada kesalahan atau ke kurang akuratan data, penulis berterimakasih jika ada pembaca yang ingin berdiskusi dan memperbaiki tulisan ini.

Indonesia Tidak Cocok Untuk Industri Hi-Tech?


Industri teknologi canggih alias hi-tech sulit berkembang di Indonesia.Salah siapa? Apakah memang ekosistem kita tidak menunjang untuk itu?

Dalam wikipedia, ekosistem didefinisikan sebagai ”Suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.”

Dalam dunia industri, ekosistem ditafsirkan sebagai suatu lingkungan yang mampu melengkapi dirinya sendiri,

Yang saya bayangkan untuk dunia properti, ekosistemnya mungkin terdiri atas developer, penyedia lahan, konsultan, arsitek, kontraktor, pekerja di sektor bangunan, vendor, dan konsumen, atau dunia musik yang terdiri atas industri rekaman, artis, pengarang lagu, dan komunitas fans, sementara untuk teknologi telekomunikasi, ekosistemnya terdiri atas operator, vendor perangkat, user, penyedia jasa tambahan, regulasi dan berbagai industri komponen yang mendukung industri perangkat.

Kelangsungan hidup suatu industri bisa dilihat dari ada tidaknya elemen-elemen dasar dari ekosistemnya. Boleh jadi salah satu elemennya tersedia dalam jumlah berlimpah ruah, tetapi elemen yang lain tidak ada, maka ekosistem tersebut akan sulit untuk dapat bertahan hidup.

pertanyaan saya sewaktu membandingkan pembangunan sektor properti ataupun musik yang berakhir relatif sukses dalam membangun ekosistem di dalam negeri, dengan pembangunan sektor hi-tech baik itu industri kedirgantaraan maupun industri elektronik dan telekomunikasi yang tidak berakhir dengan terlalu mulus. Kenapa?

ada perbedaan mendasar antara keduanya, yaitu :

  • Industri properti maupun musik dibangun dengan sebagian besar elemennya berasal dari dalam negeri, baik itu ahlinya, pelaksananya, pedagangnya maupun bahan bakunya , sementara industri hi-tech, sebagian elemen dasarnya berasal dari luar negeri, dan hanya sebagian ekspertis dan marketnya saja yang beasal dari dalam negeri. Contohnya baru saja saya baca di media, bahwa rumah susun sederhana bahannya bisa disediakan seluruhnya 100% dari dalam negeri, apalagi musik, sementara untuk teknologi telekomunikasi, kandungan lokalnya masih berada dalam kisaran dibawah 30% dan stagnan.

  • Industri properti diawali sewaktu Indonesia masih kaya dan ’merdeka’ untuk membuat government sponsored industry, sementara industri hi-tech muncul dalam masa krisis dengan banyak intervensi asing yang melarang atau membatasi keterlibatan government sebagai agent of development di bidang itu

  • Industri hi-tech khususnya elektronik muncul pada era dimana ekosistem hampir tidak dapat lagi dibatasi secara geografis yang menjadikan insentif untuk munculnya pemain lokal tidak feasible secara ekonomis.

Lahan Menggiurkan

saat ini, Indonesia menjadi lahan yang sangat menggiurkan bagi pemasaran produk-produk yang sebagian besar ekosistemnya berada diluar Indonesia. Haruskah kita bangga bahwa penetrasi telepon seluler kita sudah mencapai 40% sehingga kita tidak lagi digolongkan sebagai pariah didunia telekomunikasi? Atau haruskah kita sedih bahwa dari industri itu kita hanya berperan sebagai pemakai dan devisa kita yang terkait dengan sektor itu sebagian besar mengalir keluar? Bahwa kontribusi industri lokal hanya kurang dari 10%? Atau biasa-biasa saja?

Untuk kita yang peduli dan prihatin pada gejala suburnya ekosistem yang tidak berakar di Indonesia, dan ingin mengubah keadaan, mungkin hal yang berikut ini bisa direnungkan

  • Sektor riil untuk bidang hi-tech bukan sektor yang ’basah’, tetapi secara beramai-ramai kita dapat membuatnya menjadi basah, karena sebagaimana halnya dengan apapun yang terkait dengan industri, dimana disitu berlaku hukum economics of scale.

  • Kita harus tidak cukup merasa puas dengan jumlah orang dan jaringan. Jumlah ahli kita memang banyak, tetapi masih kurang banyak dan tersebar secara tak beraturan. Bagi anda yang pernah bersekolah di luar negeri, anda tidak pernah merasa kesepian dan kekurangan partner diskusi untuk membahas masalah pekerjaan anda down to detail. Begitu anda pulang ke Indonesia, seluruh network dan resources yang tadinya menjadi kekuatan anda tiba-tiba hilang, dan anda menjadi orang awam dan lama-lama ikut terperangkap di dalam budaya instan. Mungkin bagus untuk membandingkannya dengan strategi beberapa perusahaan di Korea ataupun Taiwan yang melakukan ’bedol desa’ terhadap ekspert mereka yang sedang bekerja di negara-negara maju untuk menjadikan ekosistem yang mampu hidup di tanah airnya sendiri. Mereka mempertahankan critical mass yang bisa menjaga seseorang tetap bertahan ditengah alam mereka yang baru.

  • Lawan terbesar dari cita-cita menghidupkan ekosistem di dalam negeri adalah budaya instan. Budaya instan adalah suatu mazhab, dan bukan sesuatu yang dapat dilawan secara individual, dia hanya bisa dilawan oleh komunitas, media, atau government.

Jadi dari mana kita mulai?

Kredit foto: weblogs.asp.net

Tips Mengamankan Password Anda


Di saat kita membuat sebuah akun email atau apapun itu, kerap kita main comot saja untuk membuat password. Padahal password itu hal yang sangat sensitif. Langkah pertama dalam menjaga privasi online Anda adalah membuat sebuah password yang aman – misalnya bahwa sebuah program komputer atau seseorang yang gigih tidak akan dengan mudah dapat menebaknya dalam waktu yang singkat.

Tips untuk membuat sebuah password yang aman:

  • Sertakan tanda baca dan/atau angka.
  • Gunakan campuran huruf kecil dan besar.
  • Sertakan substitusi yang mirip, seperti angka nol untuk huruf ‘O’ atau ‘$’ untuk huruf ‘S’.
  • Buat sebuah singkatan yang unik.
  • Gunakan pergantian fonetik, seperti ‘Luv 2 Laf’ untuk ‘Love to Laugh’.

Hal-hal untuk dihindari:

  • Jangan pilih password yang tercantum sebagai contoh pada bagaimana cara memilih password yang baik.
  • Jangan gunakan sebuah password yang mengandung informasi personal (nama, tanggal lahir, dsb.)
  • Jangan menggunakan kata atau singkatan yang dapat ditemukan dalam kamus.
  • Jangan gunakan pola keyboard (asdf) atau angka urut (1234).
  • Jangan menggunakan password yang semuanya angka, semuanya huruf besar atau semuanya huruf kecil
  • Jangan gunakan karakter berulang (aa11).

Tips untuk menjaga password Anda:

  • Jangan pernah memberitahukan password Anda ke siapapun (hal ini termasuk kepada orang lain, teman serumah, burung kakaktua, dsb.)
  • Jangan pernah menuliskan password Anda.
  • Jangan kirim password Anda melalui email.
  • Secara periodik uji password Anda saat ini dan ubahlah ke password yang baru.

Tips ini dicomot langsung dari halaman Google Account Sign Up)

Benarkah Teknologi Informasi Mendukung Daya Saing?


Banyak pihak merasakan manfaat Tekonologi Informasi (TI). Sebagian yang lain bahkan menyatakan TI mendukung dicapainya efisiensi, keunggulan daya saing perusahaan. Benarkah selalu demikian?Berbagai studi di tahun-tahun awal pemanfaatan komputer secara luas di organisasi privat melaporkan bahwa penggunaan TI mendorong terjadinya efisiensi, memperbaiki kualitas output. Kesimpulan semacam inilkemudian menjadi jimat bagi penyebar-luasan penggunaan komputer di berbagai aspek kegiatan manusia. Sekolah-sekolah komputer dari yang top hingga yang kelas ruko mengajarkan hal ini sebagai suatu dogma yang harus dipercaya.

Hari ini, hampir tidak ada lagi organisasi bisnis, nirlaba, maupun publik yang tidak menggunakan komputer dan Internet di aktivitas keseharian.Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi bila sistem komputer suatu bank nasional mati (shutdown) beberapa jam. Jangankan beberapa jam, satu menit saja seluruh sistem komputernya mati, kerugian besar akan diderita bank bersangkutan.

Dalam kajian strategi bisnis, komputer yang tersusun dalam suatu Sistem Informasi Strategis (SIS), merupakan sumberdaya perusahaan yang dapat meningkatkan kapabilitas dan kompetensi perusahaan. Bersama sumberdaya lainnya seperti SDM, aset tetap, dan citra atau nama baik, SIS jika dikelola dengan baik dapat menjadi elemen dari strategi bisnis yang mengandalkan sumber daya (resourse-based strategy). Namun demikian strategi ini juga belum menjamin kemenangan dalam persaingan, terutama ketika sumberdaya yang ada mudah ditiru atau tidak sulit untuk dimiliki juga oleh pesaing. Kondisi mudah ditiru oleh pesaing, karena sifat sumberdaya yang berasal dari eksternal (vendor). Selain menjual sumberdaya kepada kita, vendor juga menjual kepada pesaing.

Daya Saing

Dengan rasional seperti ini saja sudah dapat dikatakan bahwa keunggulan daya saing yang mengandalkan TI, tidak akan berusia panjang. Faktor yang menggerus kejayaan bukan hanya datang dari penyamaan atau peniruan oleh pesaing (eksternal), namun juga dapat muncul dari faktor internal. Ketika pertumbuhan bisnis melesat melewati batas daya dukung SIS, maka ini pertanda pertama bagi manajemen untuk mulai mengubah SIS-nya. Demikian juga ketika manajemen enggan mengeluarkan investasi baru guna mengganti SIS yang sudah mulai ketinggalan zaman, kondisi semacam ini dapat menandai mulai surutnya daya dukung TI terhadap bisnis.

Dua faktor lain yang dapat menghalangi kelangsungan competitive advantage terkait dengan SIS adalah kualitas dan loyalitas SDM serta situasi regulasi industri. Suatu perusahaan yang hidup matinya sangat tergantung pada TI, harus menghadapi masalah pelik ketika lebih dari separo pegawai departemen Sistem Informasi-nya mengundurkan diri dan kabarnya akan pindah ke perusahaan pesaing. Padahal, perusahan telah banyak berinvestasi memberikan pendidikan dan pelatihan kepada sebagian besar dari mereka yang mengundurkan diri. Jika pengunduran diri ini terjadi, operasional perusahaan akan terganggu untuk beberapa waktu hingga pos yang ditinggalkan terisi. Meskipun terisi, tidak jaminan dapat kembali seperti semula dalam tempo yang relatif cepat. Di luar itu, ada ancaman dari pesaing, karena knowledge yang semula dimiliki perusahaan akan menjadi milik pesaing (brain drain).

Pelajaran yang dapat diambil dari kasus ini, meski sering dikatakan SDM sebagai aset sangat berharga bagi perusahaan, sejatinya SDM sangat rentan untuk lepas dari kendali manajemen. Ketika hal ini terjadi, sehebat apapun SIS yang dimiliki, menjadi berkurang kontribusinya bagi daya saing perusahaan.Dalam hal regulasi, pernah terjadi kasus di mana suatu perusahaan sangat ingin membuka bisnis baru dengan memanfaatkan keunggulan SIS yang dimiliki. Keinginan tingal kenangan, ketika ternyata belum ada regulasi yang secara khusus mengatur penyelenggaraan bisnis tersebut. Padahal, tanpa adanya bisnis baru, perusahaan sudah mendekati stagnasi. Pada kasus lain, hampir semua perusahaan di suatu industri tertentu harus mengubah sistem informasi-nya, menanamkan investasi baru karena adanya regulasi yang berdampak pada perubahan-perubahan. Kasus-kasus semacam ini dialami pelaku bisnis di industri yang regulated, di mana conduct atau perilaku industri diatur oleh pemerintah.

Tantangan

Beberapa studi tentang dampak TI terhadap kinerja perusahaan yang dilakukan antara 2000-05 di Amerika, Taiwan, Inggris, dan Jepang pada umumnya menyimpulkan bahwa hubungan investasi TI dengan kinerja perusahaan tidak selalu linier. Artinya, ada suatu masa di mana terjadi akselerasi kinerja beberapa masa sesudah investasi TI dilakukan, namun kondisi semacam ini akan melambat hingga akhirnya kurva mulai mendatar, hingga kemudian menukik. Para ahli menyebutnya sebagai kurva U terbalik.

Tantangan bagi para eksekutif adalah bagaimana mengubah kurva U terbalik di atas menjadi kurva linier, sehingga setiap penambahan satu unit investasi TI akan menghasilkan sejumlah expected output secara konsisten selama waktu tertentu. Menjawab tantangan ini, ada beberapa strategi yang dapat dipertimbangkan. Pertama, mengubah pola investasi, jika semula membeli dengan spesifikasi tetap, pertimbangkan untuk outsourcing atau investasi yang flexible dan scalable sesuai pertumbuhan bisnis. Kedua, lakukan penyelarasan antara strategi bisnis dan SIS. Fakta empirik menunjukkan instansi pemerintah sedikit sekali melakukan penyelasaran antara TI dan “strategi bisnis” instansi bersangkutan. Penyelarasan penting agar derap bisnis dapat diimbangi oleh daya dukung SIS. Ketiga, inovasi berkelanjutan. Organisasi yang tidak melakukan inovasi, ia bukanlah organisasi, melainkan kumpulan orang-orang yang hanya menunggu ajal. Inovasi dapat untuk memperbaiki produk atau mengubah proses bisnis.

Ada bahaya inovasi. Inovasi yang mudah ditiru atau inovasi yang mengerahkan sebagian besar sumber daya perusahaan sehingga mengurangi perhatian kepada hal-hal lain yang juga tidak kalah pentingnya dapat berujung pada dilema inovasi.

Keempat, dalam memanfaatkan TI, hendaknya berorientasi untuk menciptakan value yang lebih unggul dari pada value yang berhasil diraih pesaing. Suatu studi menunjukkan bahwa pemahaman sebagian besar eksekutif terhadap value creation dengan memanfaatkan TI ternyata masih rendah. Kelima, manfaatkan dan kembangkan TI sedemikian rupa sehingga secara alami dapat membentuk sebuah barrier to entry. Hambatan masuk industri secara alamiah, seperti keunikan kompetensi, kerumitan dalam disain dan operasional, atau besaran investasi yang harus ditanam, pada umumnya dianggap tidak melanggar hukum positif. Keenam, SIS dan strategi bisnis secara berkelindan dibangun untuk mengurangi atau menambah biaya alihan. Ketika merayu calon pelanggan, tunjukkan biaya alihan yang rendah, namun ketika sudah menjadi pelanggan, ciptakan sedemikian rupa biaya alihan sehingga tidak mudah bagi perusahaan untuk pindah ke pesaing. Persoalan etika dapat meruak ketika perusahaan ceroboh melakukan strategi keenam ini.

Apa implikasi kebijakan publik dari uraian di atas? Jawabnya kurang lebih, bagaimana instansi pemerintah yang diberi wewenang melaksanakan pembinaan dalam pemanfaatan TI memberi bimbingan kepada semua instansi pemerintah agar dalam memanfaatkan TI tidak hanya sekedar sebagai alat pelengkap saja, namun lebih dari pada itu, bagaimana dengan komputer dapat mencapai kinerja pelayanan publik yang baik secara berkelanjutan. Akan halnya kalangan swasta, pada umumnya mereka lebih tahu apa yang harus dikerjakan.

Kredit foto: www.hitsummit.com

Pengembangan Software: Sains atau Seni?

Sampai sekarang perdebatan ini belum selesai. Kalau dilihat dari tempat di mana pelajaran pengembangan software (rekayasa perangkat lunak) berada, dia berada di lingkungan matematik atau sains. Semestinya dia bisa dikatakan sains ya? Kemudian produk software dikembangkan dengan mengacu kepada kaidah rekayasa (engineering).

Tetapi ketika kita meminta pengembang untuk memperlakukan software seperti bangunan (rekayasa juga kan?), misalnya meminta harga yang bisa dipertanggung jawabkan atau skedul yang pasti, pengembang banyak yang mengelak dengan dalih ada banyak faktor seni (art) di dalamnya sehingga harganya susah diprediksi atau waktu yang molor. Ternyata pengembangan software susah dikendalikan secara saklek. Halah. Jadi bagaimana dong? Sains atau Seni sih?

Bagaimana pendapat Anda?

Revolusi Digital 11:Kelahiran World Wide Web


Salah satu lembaga dunia yang pertama-tama terhubung ke jaringan internet adalah Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire (CERN), badan penelitian nuklir Eropa yang bermarkas di Jenewa, Swiss. Beranggotakan 9.000 fisikawan, badan tersebut menghadapi sebuah masalah, yakni menemukan cara agar para ilmuwan bisa saling berbagi catatan, naskah ilmiah, foto dan grafik. Solusi datang dari seorang programer bernama Tim Berners-Lee.

Pada 1979, mahasiswa pascasarjana di CERN itu menulis sebuah program primitif yang memungkinkan orang saling bertukar dokumen elektronik. Tetapi, waktu itu, ia tak mampu menyelesaikannya dan upaya tersebut dihentikan.

WWW

Pada 1990, Berners-Lee, yang kali ini berusia 35 tahun, berpikir ulang dan menghidupkan kembali proyeknya. Kali ini ia bekerja dengan sebuah mesin yang sangat canggih, komputer NeXT buatan Steve Jobs (pendiri Apple). Kebetulan, komputer tersebut memiliki paduan perangkat keras dan perangkat lunak yang tepat untuk menampilkan informasi secara visual.

Selama beberapa bulan, Berners-Lee menulis ulang program komputernya dan berhasil menciptakan browser, sejenis perangkat penjelajah internet. Ia juga membuat beberapa halaman web yang bisa diakses. Ini adalah versi pertama dari World Wide Web, nama yang dicetuskan sendiri oleh Berners-Lee dan biasa disingkat WWW.

Apa yang diciptakan Berners-Lee adalah seperangkat kode–dinamai Hyper Text Markup Language (HTML)–untuk mengatur tampilan pada halaman web. Sementara itu, halaman tersebut bisa diakses melalui Hyper Text Terminal Program (HTTP).

Tahun 1992, salah seorang mahasiswa di National Center for Supercomputer Applications (NCSA) di University of Illinois melihat beberapa literatur WWW dan tertarik mendalaminya. Ia mengambil beberapa program yang disediakan secara gratis dan menunjukannya kepada seorang teman bernama Marc Andreessen.

Mosaic

Segera tim NCSA membuat program serupa. Andreessen sebenarnya bukan pemrogram jempolan. Tapi, ia pandai membujuk. Ia berhasil meyakinkan hacker jagoan, Eric Bina, untuk bergabung. Lahirlah browser bernama Mosaic. Apa yang dihasilkan Bina lebih canggih dibandingkan produk Berners-Lee. Mosaic lebih sederhana dan logis sehingga mudah digunakan, termasuk oleh orang awam.

Di awal 1994, koran New York Times menulis artikel tentang Mosaic. Tulisan itu menarik minat Jim Clark, mantan pengajar di Stanford yang menjadi pebisnis. Ia segera mengontak Andreessen yang saat itu telah lulus dan bekerja di California.

Mereka mendirikan Mosaic Communications untuk membuat browser yang lebih baik lagi. Tapi, University of Illinois keberatan karya kampus dikomersialkan. Andreessen dan Clark mengubah nama perusahaan dan produk mereka menjadi Nestcape.

Keputusan Nestcape untuk memberikan perangkat lunak secara gratis membawa internet kepada publik yang semakin luas. Pada akhir 1994, banyak orang mulai menggunakan browser. Tanpa dipicu penanaman modal, halaman web bertumbuh di internet. Setiap minat diwakili. Setiap hobi muncul. Karena mudah, semua orang bisa membuat halaman web.

Saham Publik

Pada Agustus 1995, Nestcape melakukan penawaran saham publik. Orang berlomba-lomba ingin menjadi bagian dari kisah sukses ini. Saham Andreessen di perusahaan itu mendadak menjadi bernilai $100 juta. Padahal, ia belum pernah menulis satu baris kode program pun sejak bergabung di perusahaan itu.

Tetapi, kisah sukses itu segera dilibas Microsoft yang memunculkan Internet Explorer (IE). Bill Gates sadar bahwa masa depan perusahaannya bergantung pada kemampuan beradaptasi dengan internet, babak terbaru dari revolusi digital. Langkah Gates menjual IE satu paket dengan Windows memuat Nestcape mulai kehilangan pamor.

Nestcape–yang mendasarkan bisnisnya pada produk tunggal–berada di ujung tanduk. Perusahaan yang ikut meluncurkan ledakan internet itu malah tersesat sendiri. Ia tidak mempunyai sesuatu yang unik untuk
terus memimpin pasar. Akhirnya, program Nestcape dibuka kepada publik, menjadi open-source. Kini, ia hadir kembali dengan nama Mozila yang mulai populer menggeser IE.


foto:api.ning.com

Linux Terus Mendominasi Pasar Komputer Super


Data dalam jumlah besar memerlukan tenaga komputasi yang besar juga, untuk mengolahnya menjadi informasi yang berguna. Contoh pengolahan data super kritis adalah pada keuangan/bank, bioinformatika, dan militer. Platform apakah yang paling cocok untuk melakukan hal itu? Mari kita simak dibawah.

Berdasarkan data tahun 2005, Linux berada di posisi teratas (Catatan Penerjemah: Data tahun 2008 justru menunjukkan trend bahwa linux semakin mendominasi pasar komputer super). Dalam daftar top500, yang dirilis pada konferensi komputer super di Seattle, Blue Gene/L berbasis Linux berada di posisi teratas. Blue Gene/L tidak sendirian, sebab tujuh dari sistim top 10 menjalankan Linux. Aix, UNICOS, dan Super-UX juga hadir di top 10.

Daftar top500 (http://www.top500.org/) telah menunjukkan bahwa Linux adalah sistim operasi de facto dan de jure pada komputer super, dan pada daftar tahun 2005 menunjukkan bahwa popularitas Linux di platform komputer super adalah 78% dari seluruh komputer yang paling cepat didunia tersebut (catatan penerjemah: data tahun 2008 menunjukkan, bahwa presentasenya naik menjadi 87%). 391 dari semua sistim ini menggunakan berbagai distro Linux, jauh lebih banyak dibandingkan Unix (Dahulu kala Unix mendominasi pasar komputer super), Mac OS X, Solaris, ataupun Windows.

Erich Strohmaier, editor dari daftar, mengatakan, walaupun prosesor 64 bit dan multi-core memainkan peran sangat penting dalam evolusi sistim super, tidak ada tanda bahwa Linux akan mengalami penurunan pada daftar. ‘ Linux telah mendominasi sistim operasi pada komunitas komputer super, dan akan tetap demikian’, demikian kata dia. ‘ Jika ada perubahan, maka justru akan menjadikan Linux semakin dominan.

Efektivitas

Strohmaier memuji efektivitas kluster linux untuk mencapai kekuatan komputasi yang lebih besar, dan menggaris bawahi bahwa sistim operasi open source juga dapat memenuhi apapun yang dilakukan berbagai organisasi di server mereka.

Walaupun sukar menentukan apakah distro Linux yang digunakan secara tepat, situs database top500 sekarang juga memasukkan sistim operasi yang digunakan oleh komputer super. Database tersebut juga memasukkan variabel seperti geografi, vendor sistim, teknologi interconnect, dan keluarga komputer/prosesor.

Distro Linux yang dapat terdeteksi pada daftar adalah Red Hat Linux, Red Hat Enterprise, SUSE Enterprise Server, UNICOS/Linux, dan CNK/Linux. Menurut Strohmaier, distro Linux yang populer adalah Linux standar, bukan yang telah terkostumisasi atau yang terkombinasi, yang biasanya populer pada sistim besar.

‘ Kostumisasi sistim operasi sering dilakukan komunitas riset, namun industri dan bisnis lebih tertarik pada solusi tertentu yang sudah didukung oleh sistim operasi tersebut’. Kata dia. Strohmaier menambahkan, bahwa pertumbuhan industri komputer super telah tumbuh secara cepat dan akan terus demikian. Dia juga melaporkan, bahwa terjadi penggantian sistim dengan cepat, karena 4 dari top 10 sistim telah diganti oleh instalasi baru.

Titik Teratas

Supaya tetap pada titik teratas, IBM BlueGene/L pada Lawrence Livermore National Lab (LLNL) telah menggandakan kekuatannya, dan sekarang telah memiliki rekor performas linpack 280,6 teraflops ( Biliun kalkulasi perdetik). Pada urutan kedua, adalah sistim Linux eServer Blue Gene, BGW, pada Pusat riset IBM Thomas Watson, yang memiliki performans 91,2 teraflops. Urutan ketiga adalah ASCI Purple milik departemen energi Amerika Serikat, sistim berbasis AIX yang memiliki performans 63,4 teraflop pada LLNL juga. Urutan keempat dan kelima dipegang oleh SGI Columbia, komputer super berbasis Linux yang memiliki performans 51,87 teraflops, dan Thunderbird, sistim Dell PowerEdge Sandia National Lab yang menjalankan Linux dan memiliki performans 36,10 teraflops.

Stromaier juga menekankan, bahwa prosesor AMD juga hadir semakin kuat pada daftar. Walaupun masih kalah dibanding sistim intel, namun perusahaan tersebut telah menempatkan 55 sistim pada daftar, dan pasarnya berkembang. Strohmaier juga mengatakan bahwa 64 bit dan teknologi multicore juga berperan.

Strohmaeir mengindikasikan bahwa walau Unix masih memiliki pasar, tidak ada sistim operasi lain yang akan digunakan sebanyak Linux kedepannya di top500 .

Variasi Unix yang lebih tua, seperti AIX akan tetap digunakan, namun karena sistim berbasis server akan digantikan oleh kluster, Linux akan menjadi semakin dominan,’ Kata dia. ‘ Linux telah menjadi standar industri pada komunitas ini, dan sistim operasi lain ( MacOSX, Windows, dll) yang ingin memasuki pasar ini harus berjuang sangat keras.’

Referensi:

http://www.top500.org/

Diterjemahkan dari:

http://www.linux.com/feature/49832

Foto: http://xocoo.wordpress.com/2008/08/03/windows-vs-linux-vs-mac/